May 27, 2015

Weekend Wonder Workshop

Selamat sore, 
Saya selalu merasa tinggal di Jakarta yang macetnya juara ditambah dengan teknologi yang katanya memudahkan kita berkomunikasi, tidak menjadi solusi keinginan saya untuk berkumpul bersama teman-teman yang juga suka berkarya secara berkala. Tepatnya bertemu dan berkumpul dalam sebuah tempat dan saling mengobrol sambil membuat berbagai macam karya yang kita suka. Atau bahkan sekedar bertemu muka, ngobrol dan makan minum cantik saja misalnya.
Iya, kita mungkin sering berjumpa di pameran atau bazaar, tapi kan auranya berbeda. Tidak terlalu santai juga, karena kalau di pameran atau bazaar agendanya bukan untuk ngobrol dan bertemu teman kan?
Dulu sekali, bersama beberapa orang teman dekat yang juga suka bikin-bikin, menurut istilah saya, kita pernah menghabiskan satu hari Minggu di sebuah taman kota sambil membawa peralatan masing-masing, camilan dan kantong sampah. Kita menamakannya Making Art At The Park. Walaupun hanya sekali namun kenangannya sampai sekarang membuat saya rindu momen-momen itu dan ingin membuatnya lagi bersama dengan teman-teman lain yang juga suka bikin-bikin.
Karenanya waktu kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan ide ini bersama dengan Suar Artspace, saya senang sekali. Saya namanya kegiatan ini Weekend Wonder Workshop. Karena walaupun tidak ada peserta dan pemateri workshop seperti biasanya, namun memang disini adalah tempat dimana yang ikut, bisa sekaligus belajar dan berbagi dengan peserta lainnya. Semua jadi guru, semua juga jadi murid. Setara. Karena pada kenyataannya semua orang bisa jadi pencipta, dan tidak hanya sekedar jadi pembeli kan?
Waktu undangan Weekend Wonder Workshop kami sebarkan,  kami tidak menyangka sambutannya akan sehangat ini. Dalam waktu sebulan sejak informasi kegiatan ini disebarkan, banyak sekali teman-teman yang langsung mengiyakan untuk datang. Dari seniman tato, kolase, ilustrator, pelukis, pengrajin, penyanyi sampai publik umum yang mengetahui mengenai acara ini. Dan inilah acara Weekend Wonder Workshop episode I yang didokumentasikan oleh Rangga Kusuma, videografer dan fotografer, yang hari itu juga ikut belajar decoupage dari Kartika Jahja.
Seperti yang saya bayangkan, menyenangkan sekali untuk berada dalam satu meja panjang bersama teman-teman lama dan baru yang sama-sama suka bikin-bikin. Mengobrol dan bercerita sambil makan minum di bawah rindangnya pohon. Waktu katanya memang serasa terbang saat kita bersenang-senang! Terimakasih untuk semua yang datang dan sampai jumpa di episode II Weekend Wonder Workshop. Untuk jadwal Weekend Wonder Workshop bulan depan juga kegiatan Suar Artspace lainnya bisa langsung follow akun twitter dan instagram mereka di sini.

                                                                       Ika.

May 25, 2015

Tentang sebuah profesi

Selamat malam,
Saya selalu merasa kesulitan saat mesti menulis profil diri sendiri. Saya sadar hal ini disebabkan banyaknya pekerjaan yang seringkali saya jalani secara bersamaan namun semuanya berbeda bentuknya, walaupun mungkin bidangnya sama. Seperti saat ini misalnya, saya masih membuat kolase, menjadi penulis naskah, konsultan komunikasi, juga pemateri lokakarya. Belum lagi saya juga membuat barang-barang kriya dengan nama Recycle Retro. Jadi apa sebenarnya profesi saya?
Kadang saya ingin juga seperti banyak teman saya yang tampaknya sudah jelas alur profesi dan hal-hal yang ingin mereka lakukan di dalam hidupnya. Sementara saya rasanya dari dulu ya seperti ini saja. Bersenang-senang melakukan apapun yang membuat saya senang, apalagi kalau kemudian juga mendatangkan uang, makin senanglah saya melakukannya. 
Namun kemudian saya berpikir bahwa yang penting dari semua yang saya lakukan tersebut adalah saya senang dan menikmati prosesnya. Mungkin memang alur yang tepat untuk saya yang memang mudah bosan dan memiliki banyak ketertarikan pada banyak hal adalah seperti sekarang ini. 

Dan saya akui saya seringkali memang memberanikan diri untuk melakukan sesuatu atau melakukan pekerjaan yang saya belum pernah lakukan sebelumnya agar saya belajar sesuatu yang baru, kenal juga dengan lingkaran pergaulan baru, dan banyak hal-hal baru lainnya karena saya sadar sekali saya adalah orang yang apabila sudah nyaman dengan satu lingkungan atau kebiasaan kemudian malas sekali keluar dari sana. Terlena. Padahal hidup bukan hanya tentang merasa nyaman, aman dan tentram kan?  Dengan gelisah kita jadi tahu apa artinya tenang, dengan kurang kita jadi bisa bersyukur kalau kita berlebih atau bahkan seringkali berlebihan.
Karenanya mulai sekarang kalau diminta menulis profil dan mesti menulis profesi, saya akan menjawabnya dengan: menjadi diri saya sendiri.

Ika

Dec 24, 2014

Recycle and repurposed used books



Selamat malam.

Hari ini saya akan bercerita tentang buku-buku bekas yang saya daur ulang menjadi jurnal atau buku sketsa selama beberapa tahun terakhir ini. Idenya sendiri saya temukan di internet sudah lama, tapi kemudian waktu saya coba membuatnya, saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan terus membuatnya sampai hari ini.


Biasanya buku yang saya daur ulang adalah buku-buku bekas hard cover yang masih bagus kondisi tulang bukunya, karena di bagian itulah nantinya kertasnya akan direkatkan kembali setelah diganti. Selain itu saya akan merasa sangat senang bila di dalam buku bekas tersebut ada ilustrasi atau gambar-gambar yang menarik, baik berwarna maupun hitam putih. Sehingga bagian yang akan saya ganti kertasnya adalah kertas-kertas yang bertulisan saja nantinya. 


Awalnya dulu saya menggunakan kertas HVS putih biasa untuk mengisi ulang halaman-halaman kertas dalam buku yang saya daur ulang, namun sekarang saya menggunakan kertas buku 90 gram warna cream agar makin pas dengan nuansa buku bekasnya. Kertasnya polos tak bergaris sehingga bisa untuk menulis sekaligus menggambar diatasnya. 


Karena beberapa teman yang menjadi pelanggan untuk buku-buku ini menggunakannya untuk doodle atau menggambar dengan marker dan cat air sekaligus, mereka merasa kertas ini cukup memadai. Untuk kolase juga tentunya. Walaupun saya baru menggunakan beberapa halaman saja untuk menyicil buku kolase saya sendiri.

 
Saya sangat menikmati proses pembuatan buku-buku daur ulang ini dari berburu buku bekasnya, membeli kertas, memotret, hingga menceritakannya kepada para calon pembeli saya. Dan walaupun pernah ada teman yang bertanya apakah saya tidak sayang dengan isi buku yang sudah saya lepas dari sampulnya, saya berusaha untuk memilih buku yang memang sudah tidak terlalu layak dibaca lagi atau menggunakan bahasa asing di luar bahasa Indonesia dan Inggris.


Namun tentu saja saya pernah beberapa kali membeli buku bekas yang kemudian saya malah simpan untuk dibaca atau pajang saja karena isi dan gambarnya serta kondisinya masih bagus sekali. Dan tumpukan isi buku-buku yang sudah dilepas dari tulang dan sampul aslinya tersebut adalah bahan kolase dan decoupage yang sempurna. Jadi, tidak heran kan kalau saya rajin sekali ke toko buku bekas kalau bepergian kemana-mana?

Selamat tidur,

Ika
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...